Jumat, 13 Januari 2017

Partisipasi politik pemuda dan pilkada Bekasi

BAB I

Pendahuluan



A. Latar Belakang

Disadari atau tidak, pemuda sejatinya memiliki peran dan fungsi yang strategis dalam akselerasi pembangunan termasuk pula dalam proses kehidupan berbangsa dan berbegara. Pemuda yang kerap disebut sebagai harapan bangsa itu merupakan aktor dalam pembangunan.
Pemuda sebagai agen perubahan diwujudkan dapat mengembangkan wawasan kebangsaan, pendidikan politik dan demokratisasi, sumber daya ekonomi, kepedulian terhadap masyarakat, ilmu pengetahuan dan teknologi, olah raga seni, dan budaya, kepedulian terhadap lingkungan hidup, pendidikan kewirausahaan, serta kepemimpinan dan kepeloporan pemuda.

BAB II

Pembahasan

  Pemuda adalah individu dengan karakter yang dinamis, bahkan bergejolak dan optimis namun belum memiliki pengendalian emosi yang stabil. Pemuda merupakan generasi penerus bangsa yang masih memerlukan pembinaan dan pengembangan kearah yang lebih baik, agar dapat melanjutkan dan mengisi pembangunan yang kini telah berlangsung.
 Menurunnya rasa idealisme, nasionalisme, patriotisme dan kemunculan sifat apatis Pemuda Indonesia
Apatisme adalah kata serapan dari Bahasa Inggris, yaitu apathy. Kata tersebut diadaptasi dari Bahasa Yunani, yaitu apathes yang secara harfiah berarti tanpa perasaan.
Definisi apatisme, yaitu hilangnya simpati, ketertarikan, dan antusiasme terhadap suatu objek. Apatisme Politik muncul karena meningkatnya Kelelahan Politik (Political Fatique).

Penyebab utamanya adalah tidak terselesaikannya berbagai kasus yang pernah mendapat perhatian dan sorotan publik.

Secara umum, beberapa permasalahan yang mungkin dialami oleh Pemuda di Indonesia dapat kita uraikan sebagai berikut:
1. penurunan dalam menentukan jalan yang akan diambil.
2. kelabilan dalam menentukan jalan yang akan diambil.
3. takut dalam mengambil keputusan.
4. apatis.
5. pergaulan yang tidak baik.
6. arus globalisasi.
7. ketidakmampuan dalam terlibat.

Partisipasi Politik Pemuda dalam Pilkada Bekasi
Generasi muda merupakan salah satu representasi pemilih yang memiliki peran besar dalam mengawal jalannya Pilkada Bekasi 2017. Pemuda adalah tumpuan masa depan yang berperan besar dalam momentum  menentukan calon pemimpin daerah.
Ahmad Djaelani menilai bahwa konten politik saat ini belum dikemas sesuai karakteristik anak muda. Selain itu, penetrasi politik pun belum menyentuh ruang aktivitas anak muda."Citra politik masih dinilai kotor dan tabu untuk anak muda," ujar Djaelani seperti siaran pers yang diterima Sabekasi.com.Sejatinya, peran pemuda selalu dibutuhkan untuk mengisi kebuntuan politik. Ironinya, imbuh Djaelani, pemuda hari ini masih terlalu elergi dengan dinamika politik lantas menarik diri dari segala perilaku politik yang ada.“Gagasan kami adalah menjembatani gap realitas politik yang rumit dengan realitas anak muda yang simpel dan praktis,” jelas Djaelani.
Djaelani mengungkapkan bahwa gerakan Kopidasi adalah membangun kesadaran politik pemuda, meningkatkan partisipasi pemilih, dan menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi.“Outputnya adalah menjadikan pemilih cerdas dan rasional,” tegasnya.
Adapun, gagasan yang ingin digaungkan oleh Kopidasi adalah menciptakan ruang eksistensi pemuda, memahami karakteristik pemuda, dan pelibatan aktif pemuda dalam pelaksanaan demokrasi elektoral."Program yang diusung oleh Kopidasi adalah untuk membangun kesadaran anak muda Kabupaten Bekasi tentang pentingnya pilkada, menumbuhkan rasa ingin terlibat anak muda Bekasi dalam pilkada serta meningkatkan partisipasi anak muda Kabupaten Bekasi," paparnya.Sementara itu, Ketua KPU Kabupaten Bekasi, Idham Holik mengapresiasi gagasan yang disampaikan oleh rekan-rekan Kopidasi.
            Analisis dan Solusi Berdasarkan Permasalahan
            Selain beberapa penyebab utama yang telah diuraikan pada sebelumnya, berdasarkan analisa berita diatas dapat kita tambahkan alasan munculnya sikap apatis masyarakat ialah salah satunya rasa tidak percaya masyarakat kerena terdapat kecenderungan monopoli atau dominasi oleh beberapa entitas politik tertentu sehingga komponen bangsa yang lain dianggap tidak berpengaruh dalam pengelolaan negara ini.
            Kunci untuk mencegah apatisme yang dapat berujung frustrasi dengan aksi tidak konvensional yang pertama adalah kepemimpinan. Apatisme politik bisa diatasi dengan kepemimpinanvisioner,”jujur,adil,tegas”,dan decisive Kepemimpinan yang dapat mencegah apatisme dan frustrasi politik adalah kepemimpinan yang bertumpu pada integritas; kepemimpinan yang menyatu antara perkataan dan perbuatan, tidak sekadar berbasa-basi untuk menyenangkan semua orang.

BAB III

Penutup

Kesimpulan
 pemuda memegang peranan penting dalam pembangunan suatu negara, pemuda yang berkualitas dapat berpartisi pasi dalam bidang politik. Masa depan suatu bangsa terletak di tangan pemuda atau generasi mudanya sebab merekalah yang akan menggantikan generasi sebelumnya dalam memimpin bangsa. Oleh karena itu, generasi muda perlu diberi bekal berupa ilmu pengetahuan yang sesuai dengan tuntutan zaman, serta tetap menjaga budaya bangsanya.

SARAN
Selaku pemuda Indonesia kita harus memilih sesuai dengan hati kita , jangan sampai tidak memilih karna masa depan tergantung kepada pemuda pemuda sekarang . Pemerintah juga harus lebih memperhatikan pendidikan untuk pemuda terutama mahasiswa dan juga masyarakat yang kurang mampu untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat lebih tinggi .

Dengan kekuatan kebenaran, selagi aku masih hidup, Menguasai jagad raya.


Daftar pustaka: 







Tidak ada komentar:

Posting Komentar